Lebam Tiba-Tiba di Paha dan Lengan Padahal Tidak Terbentur, Berbahayakah?

banner 120x600
banner 468x60

Jakarta – Bangun tidur atau ganti baju, tiba-tiba ada lebam di paha atau lengan padahal tidak jatuh atau terbentur. Kaget, wajar. Lebam misterius ini ternyata cukup umum dialami dan tidak selalu berbahaya, tapi ada kalanya menjadi sinyal tubuh yang tidak boleh diabaikan.

Melansir dari Mayo Clinic, Jumat (18/9/26), memang tidak semua lebam muncul setelah benturan yang terasa jelas. Benturan kecil yang tidak disadari bisa membuat pembuluh darah kecil di bawah kulit pecah dan darah merembes ke jaringan di sekitarnya.

Dalam banyak kasus, lebam akan hilang sendiri seiring tubuh menyerap kembali darah tersebut. Warnanya pun biasanya berubah, dari kemerahan atau keunguan menjadi kehijauan, kekuningan, lalu perlahan menghilang.

Namun, lebam yang sering muncul tanpa sebab jelas tidak selalu boleh diabaikan. Ada sejumlah kondisi yang dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami memar.

Lebam atau bruise terjadi ketika pembuluh darah kecil di bawah kulit mengalami kerusakan. Darah yang keluar dari pembuluh tersebut kemudian berkumpul di jaringan sehingga terlihat sebagai bercak merah, biru, atau ungu pada kulit.

Benturan tidak harus keras untuk menyebabkan kondisi ini. Pada orang yang memang mudah memar, trauma ringan yang bahkan tidak diingat dapat meninggalkan lebam.

Usia juga dapat berpengaruh. Seiring bertambahnya usia, kulit menjadi lebih tipis dan lapisan lemak yang berfungsi sebagai pelindung pembuluh darah ikut berkurang. Akibatnya, pembuluh darah lebih mudah mengalami kerusakan.

Bisa juga karena obat tertentu, jika lebam mulai sering muncul, obat yang sedang dikonsumsi juga perlu diperhatikan. Beberapa obat dapat memengaruhi proses pembekuan darah atau membuat pembuluh darah dan jaringan di sekitarnya lebih rentan. Jika menduga obat menjadi penyebab, jangan langsung menghentikan obat sendiri. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

Tak hanya itu, kekurangan vitamin juga bisa berperan. Asupan nutrisi tertentu juga berkaitan dengan kondisi kulit dan pembuluh darah.

Salah satunya vitamin C. Kekurangan vitamin C yang berat dapat menyebabkan scurvy, yang salah satu tandanya adalah perdarahan pada kulit dan munculnya memar.

Meski demikian, sering lebam tidak otomatis berarti kekurangan vitamin C. Ada banyak kemungkinan lain yang perlu dipertimbangkan. Trombosit rendah hingga gangguan pembekuan darah, misalnya.

Trombosit merupakan salah satu komponen darah yang membantu menghentikan perdarahan. Jika jumlah trombosit terlalu rendah atau fungsinya terganggu, seseorang dapat lebih mudah mengalami memar atau perdarahan.

Melansir dari studi dalam jurnal Transfusion and Aphresis Science, gangguan pada faktor pembekuan darah juga dapat membuat darah lebih sulit membeku. Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah von Willebrand disease (VWD), yaitu gangguan perdarahan yang dapat diturunkan. Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang mudah mengalami memar, mimisan, atau perdarahan menstruasi yang lebih banyak.

Perempuan memang dapat mengalami keluhan mudah memar dalam konteks gangguan perdarahan tertentu. Namun, bukan berarti perempuan secara umum pasti lebih mudah lebam karena hormon atau menstruasi.

Justru, pola gejala lain bisa menjadi petunjuk. Jika seseorang sering mengalami lebam tanpa sebab, sekaligus mengalami menstruasi yang sangat banyak, sering mimisan, atau gusi mudah berdarah, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

Gangguan perdarahan pada perempuan menunjukkan bahwa keluhan seperti easy bruising dan perdarahan menstruasi berat dapat menjadi bagian dari gangguan seperti VWD. Jadi, menstruasi bukan penyebab langsung munculnya lebam. Menstruasi yang sangat banyak justru bisa menjadi salah satu petunjuk adanya masalah pada proses pembekuan darah.(sy/hn/rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *